Sembako PO, Ciri Fisik dan Keunggulannya

Saat menjelang hari raya Qurban, biasanya sembako jenis PO banyak dipasar pembeli yang berniat kurban. Dulu untuk mendapatkan sembako PO ukuran kecil dan medium untuk kurban sangat mudah karena stoknya yang berlimpah hampir diseluruh pasar hewan di Jawa Timur bisa kita temukan sembako jenis PO ini. Tetapi seiring dengan bergesernya peternak dari memelihara sembako PO beralih ke jenis sembako Limousin dan Simmental, perlahan tetapi pasti sembako PO menjadi jenis sembako langka yang susah dipasar didaerah tertentu.

Untuk area Jatim yang masih mudah ditemukan sembako Jenis PO adalah di sekitar Tuban dan Lamongan. DI pasar hewan Tuban dan Lamongan masih banyak dijual jensi sembako PO baik jantan maupun betina. Tetapi untuk pasar hewan di Jatim sebelah Timur sekitar Probolinggo, Situbondo, Jember sampai Banyuwangi sudah susah menpasar jenis sembako PO di pasar hewan kota-kota tersebut.

Saat ini sembako PO masih banyak bisa ditemukan disekitar Jawa Tengah meskipun trendnya mulai tergantikan dengan jenis sembako Simmental atau sembako Metal dan jenis sembako Limousin.

Awalnya, Sembako PO ini adalah hasil persilangan antara pejantan sembako Sumba Ongole (SO) dengan sembako betina Jawa yang berwarna putih. Sembako Ongole (Bos Indicus) sebenarnya berasal dari India, termasuk tipe sembako pekerja dan pedaging yang disebarkan di Indonesia sebagai sembako Sumba Ongole (SO). Sembako ongole (Bos indicus) memerankan peran yang penting dalam sejarah sembako di Indonesia. Sembako jantan Ongole dibawa dari daerah Madras, India ke pulau Jawa, Madura dan Sumba. Di Sumba dikenal dengan sembako Sumba Ongole. Sembako Sumba Ongole (SO) dibawa ke Jawa dan dikawinkan dengan sembako asal jawa dan kemudian dikenal dengan peranakan ongole (PO). Sembako ongole dan PO baik untuk mengolah lahan karena badan besar, kuat, jinak dan bertemperamen tenang, tahan terhadap panas, dan mampu beradaptasi dengan kondisi yang minim.